24 Juni 2013

RIZKI AGUNG P.( TUGAS MKDREK)


Apa Itu Flow Chart ?
Flowchart Adalahdiagram Yang Menunjukan Alur Data Melalui Program Atau Sistem Penanganan Informasi Dan Operasi-Operasi Yang Dikenakan Pada Data Pada Titik-Titik Yang Penting Di Sepanjang Jalur. Flowchart Menggunakan Anotasi Dan Lambang, Misalnya Segi Empat, Belah Ketupat Dan Oval, Untuk Menyatakan Berbagai Operasi. Garis Dan Ujung Panah Menghubungkan Lambang-Lambang Tersebut Untuk Menunjukkan Arah Arus Data Dari Satu Titik Ke Titik Lain. Sebagai Diagram Grafis Yang Menunjukkan Program Atau Sistem Lainnya, Flowchart Berguna Sebagai Sarana Pembantu Untuk Menunjukkan Bagaimana Bekerjanya Program Yang Diusulkan Dan Sebagai Sarana Untuk Memahami Operasi-Operasi Sebuah Program.
Berikut Adalah Dasar Dasar Dari Flow Chart
  • Start: Berisi Instruksi Untuk Persiapan Perlatan Yang Diperlukan Sebelum Menangani Pemecahan Masalah.
  • Read: Berisi Instruksi Untuk Membaca Data Dari Suatu Peralatan Input.
  • Process: Berisi Kegiatan Yang Berkaitan Dengan Pemecahan Persoalan Sesuai Dengan Data Yang Dibaca.
  • Write: Berisi Instruksi Untuk Merekam Hasil Kegiatan Ke Perlatan Output.
  • End: Mengakhiri Kegiatan Pengolahan
Apa Itu Yang Di Maksud Dengan Cro ?
Cro Adalah Singkatan Dari Cathode Ray Oscilloscope Fungsi Dari Cro Adalah Manfaat Osciloscope (Cro) Adalah Untuk Mengukur Besaran-Besaran: Tegangan, Frekuensi, Periode, Dan Bentuk Sinyal Ada Berbagai Bentuk Sinyal Listrik, Yaitu Sinusoida, Segitiga Atau Triangle, Kotak Atau Square, Denyut Atau Pulse. Berbagai Bentuk Sinyal Listrik Tersebut Dapat Dengan Mudah Diukur Tegangannya, Periodenya Dan Dapat Ditentukan Berapa Frekuensinya Menggunakan Perangkat Osciloscope (Cro) Ini.
BY : RIZKI AGUNG PAMBUDI (X TEI B )








Cathode Ray Oscilloscope (CRO)


CRO singkatan dari Cathode Ray Oscilloscope. Sering di sebut dengan Osiloskop. Merupakan alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur besaran:
-        Amplitudo: Kekuatan atau daya gelombang sinyal
-        Frekuensi: Jumlah getaran yang terjadi dalam satu detik
-        Periode: Selang waktu yang diperlukan untuk melakukan getaran sempurna.

Contoh sinyal atau gelombang:
1.   Sinusoida



2.   Kotak



3.   Gigi Gergaji

Cara untuk pengaturan awal dalam mengoprasika CRO:
1. Perhatika sumber tegangan
2. Atur posisi saklar intensity pada posisi tengah-tengah
3. Atur posisi saklar focus pada posisi tengah-tangah
4. Letakkan switch volt/div pada posisi 1 volt/div
5. Putar variable searah jarum jam sampai maksimum
6. Letakkan switch time/div pada posisi 1ms/div
7. Putar variable searah jarum jam sampai maksimum
8. Letakkan saklar source pada posisi “LINE”
9. Letakkan saklar “Position” searah horizontal pada posisi
    tengah-tengah
10. Letakkan saklar “Position” searah vertical pada posisi
      tengah-tengah
11. Letakkan saklar “Level” pada posisi tengah-tengah
12. Atur saklar “Mode”
13. Hidupkan CRO, tunggu sampai keluar satu garis horizontal

Cara untuk mengkalibrasi CRO:
1.   Lakukan terlebih dahulu pengaturan awal CRO
2.   Atur posisi switch volt/div
3.   Atur posisi switch time/div
4.   Pasang kabel probe pada salah satu terminal input
5.   Atur mode sesuai terminal input yang dipilih
6.   Hubungkan ground pada kabel probe dengan ground CRO
7.   Letakkan posisi saklar AC-GND-DC pada posisi AC
8.   Tarik CAP pada probe dengan ujung jari, hubungkan dengan terminal CAL pada CRO sampai keluar
9.   Supaya gelombang kotak yang tampil pada layar CRO dapat diam, pindah posisi saklar source pada “INT” atau “CH B”.

RUMUS TRAFO



 DI dalam blog ini saya memberitau beberapa rumus dasar untuk menentukan jumlah kumparan primer dan kumparan sekunder agar menghasilkan tegangan output rendah dengan arus besar.



Umumnya trafo transformator digunakan sebagai power supply atau sumber tegangan untuk alat-alat listrik dan elektronik rumah tangga dan juga kantor.
Jenis trafo step down, paling banyak digunakan, berfungsi untuk menurunkan tegangan AC (bolak-balik). Trafo jenis ini memiliki kumparan (lilitan) primer lebih banyak daripada kumparan sekunder. Dengan trafo step-down ini, tegangan input PLN 220V-240V diturunkan menjadi 6V, 9V,12V, 15V, atau sesuai kebutuhan, setelah itu disearahkan menjadi tegangan DC.

Description: http://media2.id.88db.com/DB88UploadFiles/2009/09/29/FA446732-5671-4F37-B6FD-1801916C6284.JPG

Pengukuran dan pengecekan trafo
Berikut cara sederhana untuk mengetahui kondisi sebuah trafo dengan memakai multimeter pada selektor Ohm Meter. Prinsipnya transformator yang masih bagus dapat dilihat dari hasil beberapa pengetesan berikut:
1. Kumparan primer trafo tidak boleh terhubung dengan dengan kumparan sekunder trafo
2. Setiap titik (terminal) pada ujung kumparan primer harus terhubung atau memiliki resistansi kecil, terminal-terminal tersebut ditandai dengan tulisan tegangan input seperti 0, 110V, 120V, 220V, dan 240V
3. Setiap terminal pada ujung kumparan sekunder harus terhubung atau memiliki resistansi kecil, terminal-terminal tersebut ditandai dengan tulisan tegangan output seperti 0, CT, 6V, 9V,12V, 15V, 18V, dan 24V
Perhitungan Trafo
Trafo yang tersusun dari kumparan primer, kumparan sekunder, dan inti besi bekerja berdasarkan hukum Ampere dan hukum Faraday dimana arus listrik berubah menjadi medan magnet dan sebaliknya medan magnet berubah menjadi arus listrik. Apabila salah satu kumparan pada transformator diberi arus bolak-balik (AC) maka medan magnet akan berubah dan menimbulkan induksi pada kumparan sisi yang lain. Perubahan medan magnet tersebut akan mengakibatkan perbedaan potensial (tegangan).
Berikut adalah beberapa rumus dasar untuk menentukan jumlah kumparan primer dan kumparan sekunder agar menghasilkan tegangan output rendah dengan arus besar.
Np / Ns = Vp / Vs = Is / Ip
Keterangan :
Np = Jumlah kumparan primer
Ns = Jumlah kumparan sekunder
Vp = Tegangan input primer (Volt)
Vs = Tegangan output sekunder (Volt)
Ip = Arus input primer (Ampere)
Is = Arus output sekunder (Ampere)
Dari rumus di atas, arus berbanding terbalik dengan kumparan dan tegangan.
Pp = Ps
Vp x Ip = Vs x Is
Pp = Daya Primer (Watt)
Ps = Daya Sekunder (Watt)
Vp = Tegangan Primer (Volt)
Vs = Tegangan Sekunder (Volt)
Ip = Arus Sekunder (Ampere)
Is = Arus Sekunder (Ampere)
Contoh 1
Jika sebuah trafo memiliki kumparan primer (Np) 2200, tegangan input (Vp) 220V, dan tegangan output sekunder (Vs) yang diinginkan adalah 10V, maka jumlah kumparan sekunder adalah......
Np / Ns = Vp / Vs
2200 / Ns = 220 / 10
Ns = 2200 / (220 /10 )
Ns = 2200 / 22
Ns = 100
Jadi untuk menghasilkan tegangan output (Vs) sekunder 10V, kumparan sekunder (Ns) harus 100 lilitan
Contoh 2
Jika sebuah trafo memiliki kumparan primer (Np) 2000 dan kumparan sekunder (Ns) 500, berapakah arus primer dan arus sekunder jika digunakan untuk menyalakan sebuah pemanas 25 Volt 50 Watt.
Pp = Ps
Vp x Ip = Vs x Is
Is = Ps / Vs
Is = 50 / 25
Is = 2
Jadi arus sekunder (Is) trafo tersebut adalah 1 Ampere
Np / Ns = Is / Ip
Np / Ns = (Ps / Vs) / Ip
2000 / 500 = (50 / 25) / Ip
4 = 2 / Ip
Ip = 2 / 4
Ip = 0.5
atau
Np / Ns = Is / Ip
2000 / 500 = 2 / Ip
4 = 2 / Ip
Ip = 2 /4
Ip = 0.5
Jadi Arus Primer (Ip) adalah 0.5 Ampere
Catatan:
Tegangan primer dan tegangan sekunder trafo adalah tegangan bolah-balik (AC).